Judul: Agama Punya 1000 Nyawa
Penulis: Komaruddin Hidayat
Tahun: 2012
Tebal buku: 227 halaman

Kata pengantar oleh Prof. Quraish Shihab
Mengapa manusia beragama dan mengapa Agama langgeng di muka bumi?
Pertanyaan tersebut dapat dijawab secara sederhana yakni manusia sejak dulu hingga sekarang memiliki sifat yang sama dan tak berubah, yakni cemas dan harap. Sebagian manusia akan mencari solusi permasalahannya kepada Makhluk, namun ketika manusia dianggap tidak bisa memberikan jalan keluar atas permasalahan nya, manusia akan menghadap kepada Tuhan. Meminta agar dihilangkan rasa cemasnya, dan minta dikabulkan harapannya. Tak bisa dipungkiri segala hal yang terjadi pada aspek kehidupan, manusia secara tidak sadar menggantungkan harapannya pada yg tak terlihat (Tuhan).
William James filsuf Amerika (1842-1910 M) mengatakan “Dapat diduga keras bahwa manusia akan senantiasa shalat/berdoa sampai akhir zaman-walau ilmu pengetahuan menghadirkan sesuatu yang berbeda dengan hal itu… Kecuali jika sifat-sifat dasar manusia berubah menjadi sesuatu yang tidak kita ketahui dan tidak juga dapat kita bayangkan. “
Henry-Louise Bergson, Filsuf Perancis (1859-1941 M) menyatakan “Bisa saja berkurang atau menghilang apa saja yang kita sukai dari kenikmatan hidup, tetapi mustahil agama dapat menghilang dari kehidupan manusia. Bisa jadi dahulu atau masa kini kita menemukan masyarakat yang tidak mengenal ilmu pengetahuan atau seni, atau filsafat tetapi tidak ada masyarakat yang tanpa agama. “
Buah keberagaman adalah manusia akan merasa tenang dan damai, kecemasan dan kesedihannya akan terkikis, dan harapannya akan tumbuh berkembang. Jadi mengapa manusia beragama? Karena dasarnya manusia memiliki naluri cemas dan harap.
Agama dan Budaya/pemikiran manusia
Seperti yang umum kita ketahui agama dibagi kepada dua pembagian yakni agama Samawi dan Agama Ciptaan manusia. Agama Samawi terdiri dari Islam, Yahudi, dan Nasrani. Sedangkan Agama Ardhi terdiri dari Agama Hindu, Budha, Konghucu, dan lain sebagainya sebagai hasil pemikiran manusia. Namun harus diakui bahwa sebagian ajaran agama Samawi juga berdasarkan pemikiran manusia. Oleh karena itu para ulama terdahulu membagi hukum Islam kepada dua pembagian, yakni Fikih dan Syariah. Fikih adalah rumusan hasil pemikiran manusia yang disesuaikan dengan zaman tanpa keluar dari ajaran murni Syariat Islam. Sedangkan Syariat adalah perintah yang turun dari Tuhan. Pembagian ini diperlukan agar tidak terjadi campur tangan dalam keberadaan keduanya.
Fikih adalah sesuai dengan keadaan masyarakat saat itu, dan sifatnya mubah atau sunah, dan bukan wajib, oleh karena itu pemikiran-pemikiran ulama yang tidak sesuai (kuno) boleh dilakukan pembaharuan. Kini banyak masyarakat salah memahami kedudukan fikih dan syariah secara kontan, sehingga mensyariatkan hukum-hukum yang pada dasarnya merupakan fikih.
Apa agama pernah tidak dipakai oleh manusia?
Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu melihat sejarah Eropa abad pertengahan, di masa itu terjadi hegemoni kekuasaan gereja yang absolut, gereja mengklaim bahwa urusan keagamaan dan ilmu pengetahuan adalah urusan gereja, kaum ilmuan tentu saja menolak pandangan sepihak ini, kemudian mereka sepakat untuk mematahkan satu persatu kekuatan gereja hingga akhirnya mereka mengumumkan bahwa Tuhan tidak dibutuhkan lagi dalam kehidupan manusia, karena ilmu pengetahuan telah menggantikannya. Jadi bisa saya maknai bahwa tindakan para ilmuwan dulu merupakan bentuk protes dan kekecewaan berkepanjangan atas hegemoni gereja.
Dalam perkembangannya kemudian mereka menyadari bahwa manusia membutuhkan tolak ukur untuk menentukan suatu perbuatan baik atau buruk, namun mereka tidak ingin menamainya Agama, keputusan akhir yang didapat adalah mereka menjadikan hati nurani sebagai patokan perbuatannya. Jika hati nurani menerima maka itu bermakna mereka telah mengerjakan hal yang baik, sehingga membuat batin menjadi tenang. Namun belakangan disadari pula betapa subyektifnya suatu perbuatan jika dilihat dari sudut pandang hati nurani, karena nurani manusia itu tentu akan berbeda, pun keadaanya mendapat pengaruh besar dari keadaan sosial masa manusia tinggal. Oleh karena itu tanpa disadari manusia mulai kembali kepada agama.
Untuk apa Berdoa?
Doa artinya permohonan, di dalamnya terdapat kekuatan untuk bangkit dan membuat loncatan hidup di masa depan. Doa dapat mengalirkan energi Ilahi sehingga seseorang akan mendapat kekuatan baru setelah datang kepada-Nya. Lalu apa semua yang kita minta akan dikabulkan Tuhan? Rasulullah menjawab pertanyaan ini dengan sebuah hadis “Semua permintaan hamba-Nya pasti akan dikabulkan jika seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh. “
Ada 4 kemungkinan jawaban Tuhan atas doa hambanya, pertama dikabulkan dalam waktu dekat, kedua dikabulkan dalam waktu yang lama setelah hamba mengadu pada-Nya berkali-kali ketiga dikabulkan namun diganti dengan yang lebih baik, dan keempat dikabulkan di akhirat kelak. Tuhan adalah pencipta umat manusia, jadi sudah hak-nya bagi manusia untuk mengadu pada Tuhan atas apa yang dialaminya. Ada yang memanjatkan syukur dan berterimakasih, namun ada pula yang datang dengan setumpuk keluh kesah atas nasibnya. Sama halnya dengan penjual dan konsumen, ketika membeli barang ada konsumen yang mengucapkan Terimakasih karena kepuasannya dalam berbelanja, sebaliknya ada pula customer yang datang penuh dengan komplain.
Perlu disadari bahwa sukses bukan hanya muncul dari kekuatan doa, melainkan kerja keras dan kerja cerdas dengan mengikuti hukum alam. Maka Tuhan memerintahkan “Bekerjalah kamu dengan sungguh-sungguh lalu serahkan semuanya pada-Ku. “
To be continue…


