Judul: Manusia Langit,
Penulis: J.A Sonjaya
Penerbit: Buku Kompas
Tahun: 2010

Seperti judul yang tertera di sampul depan, buku ini mengisahkan tentang manusia langit. Diramu dalam bentuk novel, penulis berhasil menyampaikan pesan dan ilmu Etnografi kepada pembacanya. Latar belakang ide buku ini adalah Nias. Penulis menyampaikan kebudayaan dan keadaan masyarakat Nias dengan bahasa yang ringan. Pesan-pesan yang terkandung dalam teks ini juga membuat saya menyadari beberapa hal kecil yang sebelumnya tidak pernah saya perhatikan. Saya tidak akan berlama-lama diparagraf pertama, langsung saja simak sinopsisnya.
Buku Manusia Langit karya J.A Sonjaya ini memiliki delapan bab. Disini saya mencoba menyajikannya dengan urutan kronologis peristiwa yang terjadi di dalam teks. Tokoh utama dalam buku ini adalah Hendra, seorang dosen Antropogi di salah satu Universitas di kota Jogyakarta. karena suatu hal, Hendra memilih meneliti sekaligus mengasingkan diri ke Nias, suatu tempat di pedalaman kota Medan.
Cerita dimulai dari penggalian yang dilakukan Hendra dan Sayani (anak pemuka adat di kampung Banuaha) di dataran perbukitan Nias. Penggalian ini adalah salah satu penelitian berharga Hendra selama berada di Nias. Matahari tepat berada di ubun-ubun, dua manusia yang tampak kelelahan itu menemukan sebuah bibir periuk. Butuh kehati-hatian dalam menggalinya, karena jika barang temuan rusak bisa berdampak pada informasi yang didapat nantinya.
Rupanya periuk hasil temuan itu mengingatkan Hendra dan Ama Budi (pemuka adat di kampung Banuaha) pada tabir lama mereka. Dengan sedikit berbasa-basi Hendra menjawab keingintahuan Sayani pada makna periuk yang ditemukan. Periuk yang semula diasumsikan sebagai peninggalan barang-barang dapur pada masa ladang berpindah ternyata merupakan wadah pembunuhan bayi pada masa lalu. Dalam masyarakat Nias berkembang cerita-cerita tentang roh jahat pemakan bayi, hampir seluruh penduduk mempercayai hal itu. namun Arkeolog menemukan hal lain dalam penelitiannya.
Pembunuh bayi tak berdosa itu sebenarnya adalah orang tua mereka sendiri, penduduk Nias sendiri, bukan roh jahat pemakan bayi seperti cerita nenek moyang. Sekarang bayangkan bagaimana sebuah keluarga bisa hidup berburu dan berpindah-pindah sementara perempuannya masih menyusui? Tidakkah itu agak melelahkan? Untuk bisa bertahan hidup mau tidak mau yang lemah harus dikorbankan, orang tua bayi akan menimbun atau menghanyutkan anaknya di sungai, lalu berteriak histeris mengatakan bahwa bayinya telah dibawa roh jahat. Tidak ada orang yang ragu akan cerita itu, dan tidak ada yang menyalahkan orang tua bayi tersebut.
Orang tua membunuh bayinya saat itu disebabkan oleh keadaan lingkungan yang kurang makanan, dari pada si bayi hidup menderita maka orang tua lebih memilih membunuh agar penderitaan bayinya mereka segera berakhir. Adapun periuk adalah simbol rahim ibu. Orangtua berharap bayi mereka yang belum berlumur dosa itu bisa pulang dan dilahirkan kembali dari langit.
Kisah pahit Hendra juga berhubungan dengan bayi. Ia pernah melakukan hubungan terlarang dengan kekasihnya yang juga merupakan mahasiswinya. Yasmin-kekasihnya Hamil. Walaupun kekasihnya tidak bisa disebut sebagai wanita baik-baik, namun bayi yang dikandung yasmin membawa beban psikologis bagi keduanya. Singkatnya suatu hari Hendra diberitahukan temannya bahwa Yasmin ditemukan bunuh diri disebuh hotel. Itulah awal mula pelarian Hendra ke Nias. Negeri manusia langit.
Nias adalah tempat menjunjung harga diri tinggi. Harga diri disini didapatkan melalui keturunan yang baik dan kekayaan, artinya siapa yang paling banyak menyembelih babi pada saat pesta, maka dia yang paling dihargai. Selain itu mahar pernikahan di Nias sungguh sangat mahal. Jika dihitung mungkin jumlahnya hingga 50 ekor babi.
Disini perempuan menjadi sentral dalam kehidupan masyarakat Nias. Perempuan begitu dihargai sekaligus mendapat jatah kerja yang lebih banyak dari laki-laki. Di Nias laki-laki yang melihat perempuan terlalu lama akan didenda, di sini kontrol sosial adat jauh lebih hebat dibandingkan penggunaan hukum positif di kota, sehingga kasus pemerkosaan hampir tidak pernah terjadi di Nias. Namun porsi pekerjaan perempuan juga jauh lebih berat. Mereka harus bangun pagi-pagi dan menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anaknya, lalu dilanjutkan dengan mencuci piring, perempuan-perempuan nias juga harus berjalan berkilo-kilo untuk sampai ke sungai untuk mencuci pakaian. Setelah itu mereka pergi ke ladang dan pulang sore hari untuk membawa hasil ladang, kemudian mereka kembali dihadapkan pada persoalan dapur. Siklus ini terus berulang setiap hari. Mungkin sekilas terlihat sama dengan yang kita alami di Jawa, bedanya pekerjaan perempuan ini bersifat mutlak, artinya laki-laki tidak boleh mengerjakan pekerjaan yang menjadi porsi bagi perempuan. Di Nias ada pembagian khusus yang membedakan tugas laki-laki dan perempuan, jika ada laki-laki yang mengerjakan pekerjaan perempuan maka dia dianggap tidak punya harga diri-walaupun niatnya hanya membantu.
Pelarian Hendra berakhir setelah ia menyukai salah seorang gadis Nias. Namun malangnya gadis tersebut malah dinikahi orang lain karena Hendra tidak memiliki cukup uang untuk membeli babi. Malang, si gadis malah membuat masalah dengan memeluk Hendra di hari pesta pernikahannya. Petaka pun datang, Hendra yang tinggal di rumah Ama Budi akhirnya memutuskan untuk kembali ke Yogya, tempat asalnya, agar tak lagi terlibat masalah dengan masyarakat Nias. Namun lagi-lagi nasib tak berpihak pada Hendra. Gadis Nias dan suaminya mengikuti Hendra hingga ke gunung Sitoli. Sorenya di tengah hujan lebat gadis Nias yang sempat disukai Hendra ditemukan bunuh diri dengan cara gantung diri di dapur penginapan. Lengkap sudah kegusaran Hendra. Ditengah kepanikannya, Sayani yang saat itu ikut mengantar Hendra memukulnya keras hingga membuatnya pingsan. Ketika bangun Hendra melihat sudah ada Ama Budi di sebelahnya dan pemandangan penginapan yang terbakar.
Sesaat sebelum Hendra bangun, Sayani melepas seluruh pakaian Hendra dan dipakainya sendiri, lalu ia membakar diri bersama mayat si gadis Nias di dalam penginapan. Jika Sayani tidak bertindak demikian maka bisa dipastikan keturunan dari suami si gadis Nias akan menuntut balas hingga ke keturunan selanjutnya. Harga diri begitu disanjung di Nias, apalah arti sebuah nyawa jika mati tanpa memiliki harga diri. lebih-lebih bagi seorang pemuka adat.
Akhir cerita, Hendra ditemukan tak bernyawa setelah kapal yang ditumpanginya untuk menyebrang ke pulau Jawa pecah dihantam cuaca buruk. Catatan penelitian dan barang-barang yang dibawanya dari Nias ditemukan. Akhirnya terungkaplah bahwa selama ini Yasmin, alasan Hendra melarikan diri ke Nias masih hidup dan menanggung buah hatinya seorang diri. namun malang kenyataan ini baru terungkap ketika Hendra sudah bersama dengan manusia-manusia langit di angkasa.
Buku ini sangat saya rekomendasikan bagi kalian yang menyukai dunia sastra plus Ilmu Etnografi. Saya pribadi suka membaca novel yang memberikan banyak pengetahuan kepada pembaca di dalamnya, yang lebih hebat lagi adalah buku yang mampu merekonstruksikan persepsi pembaca pada suatu hal, dan buku ini saya rasa mencukupi kedua syarat dalam kategori tersebut.
Sinopsis dan review tentu tidak bisa menggambarkan banyak hal dalam buku tersebut, Namun semoga dengan membaca artikel ini pembaca dapat mengetahui permukaan buku sebelum membacanya lebih lengkap.
Terimakasih telah berkunjung:)
Instagram: @vinni_adam34
Ig: Vinni_adam34


